Telebe News

www.Telebe.wordpress.com

DI PAPUA ASPIRASI MERDEKA ADALAH SUARA KRISTUS YANG TERSALIB

DI PAPUA ASPIRASI MERDEKA ADALAH SUARA KRISTUS YANG TERSALIB”

Penulis: Wim Goissler- Sabtu, 31 Maret 2018

BRISBANE,SATUHARAPAN.COM- Pengakuan-pengakuan baru tentang pembantaian orang-orang Papua terungkap dalam laporan karya aktivis HAM Gereja Katolik Australia, Peter Arndt.Laporan tersebut dimuat dalam Catholic Social Justices Series Papers terbaru, dengan judul Into the Deep – seeking justice for the people of West Papua. Paper ini sudah dapat diperoleh secara online. CSJS adalah salah satu publikasi yang diterbitkan oleh Australian Catholic Social Justice Council (ACSJC) di bawah naungan Australian Catholic Bishop Conference.Salah satu pengakuan terbaru yang belum banyak terungkap selama ini datang dari Laurens, seorang pemuda yang selamat dari pembantaian militer Indonesia. Kepada Arndt, sebagaimana dimuat oleh catholicleader.com.au, dia menceritakan kejadian mengerikan yang dia saksikan di pulau Biak pada tanggal 6 Juli 1998.Menurut Laurens, puluhan orang Papua ditangkap, dipaksa naik kapal-kapal angkatan laut, diperkosa, dimutilasi, dibunuh, dan dibuang ke laut.Pada minggu-minggu berikutnya, lebih dari 30 jenazah yang terdekomposisi diambil dari laut atau terdampar di pantai.Pihak berwenang Indonesia mengklaim bahwa mayat-mayat itu adalah korban tsunami yang melanda Papua Nugini, tetapi mayat-mayat itu mengenakan pakaian yang dengan jelas mengidentifikasi mereka sebagai orang-orang dari pulau Biak.Laurens mengulurkan tangan kepada Arndt dengan permohonan sederhana: “Bisakah Anda membantu kami untuk mendapatkan kemerdekaan kami?””Saya sekarang menyadari bahwa itu adalah saat ketika saya mulai masuk ke solidaritas mendalam dengan rakyat Papua dan untuk memahami implikasi radikal solidaritas Kristen,” kata Arndt, yang adalah direktur eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian Katolik Brisbane, sebuah lembaga yang berafiliasi dengan Keuskupan Agung Gereja Katolik Brisbane.Arndt telah melakukan beberapa kunjungan ke Papua, termasuk misi pencarian fakta tahun 2016 dimana dia melaporkan “ada bukti yang jelas dari kekerasan yang sedang berlangsung, intimidasi dan pelecehan oleh pasukan keamanan Indonesia”.Kisah-kisah yang dia gali dari misi itu ia tuangkan dalam paper terbaru ini. Menurut dia, penderitaan, penghinaan dan ketakutan yang telah menandai generasi orang asli Papua mengeraskan tekad mereka untuk kebebasan dan kemerdekaan.Dalam karya tulis ini, Arndt berusaha untuk menempatkan peristiwa-peristiwa tersebut dalam konteks pesan Injil dan ajaran sosial Katolik.Sampai hari ini, tidak ada tentara atau polisi Indonesia yang bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang dilakukan terhadap Biak, tulis Arndt.Dia mengatakan orang-orang yang terus berbicara, seperti Laurens, kehilangan kesempatan kerja dan pensiun, dan tunduk pada pelecehan dan intimidasi oleh petugas keamanan Indonesia.”Ketika kami mendengarkan cerita mereka, pertemuan kami diserbu oleh pasukan polisi, petugas intelijen, dan pejabat imigrasi,” tulis Arndt.“Seolah-olah tuan rumah pertemuan kami telah siap dengan pengalaman demikian, yang mereka hadapi secara rutin di tangan pemerintah Indonesia,” kata Arndt.”Tampaknya salah satu pengemudi kami telah memberi bocoran kepada pejabat tentang kehadiran kami di Biak dan mereka datang untuk menangkap kami dan menanyai kami tentang tujuan kunjungan kami.”Into the Deep juga menceritakan kunjungan Arndt tahun 2015 ke dataran tinggi Papua, ke sebuah desa, yang tempat terjadinya penembakan oleh militer dua bulan sebelumnya.Masalah dimulai ketika tentara menangkap seorang gadis 12 tahun dan memukulinya dengan popor senjata.Setelah ratusan orang berkumpul di dekat kantor polisi untuk mengekspresikankemarahan mereka, tembakan terjadi dari menara lapangan udara terdekat dan empat pemuda terbunuh.“Baik di desa maupun di pertemuan-pertemuan gereja yang kami hadiri selama empat hari kami tinggal, tampak jelas bahwa masyarakat setempat masih dicengkeram oleh campuran kejutan dan ketakutan,” tulis Arndt.“Kehadiran kami sebagai orang asing, lebih dari satu kali, menyebabkan ketegangan — beberapa orang secara terbuka mengkritik orang-orang yang menyambut kami karena mereka takut akan membawa pihak berwenang ke desa atau ke pertemuan yang kami hadiri.“Memang, pada hari terakhir kami di desa, kabar telah menyebar ke desa bahwa polisi sedang dalam perjalanan untuk mencari tahu apa yang kami lakukan.”Ketika Arndt kembali ke dataran tinggi setahun kemudian, kasus itu masih diselidiki oleh Komnas HAM, dan tidak ada yang bertanggung jawab atas penembakan fatal keempat pemuda tersebut.”Itu tetap menjadi kasus hingga hari ini, meskipun ada jaminan berulang dari Pemerintah Indonesia bahwa menyelesaikan kasus ini adalah prioritas utama,” tulis Arndt.“Keluarga-keluarga itu dengan gigih menolak untuk mengambil uang darah atas kematian anak-anak lelaki mereka. Ketika saya bertanya apa yang mereka inginkan jika ada keadilan untuk putra-putra mereka, salah satu ayah berbicara mewakili mereka semua dengan suara yang jelas dan serius: ‘Satu-satunya keadilan yang kami inginkan adalah kebebasan’.”Seolah-olah Laurens berbicara lagi, kali ini di dataran tinggi, tetapi bagi saya itu juga suara Kristus yang disalibkan.”Arndt mengatakan banyak warga Australia yang berusaha untuk mendukung rakyat Papua, tetapi menahan diri pada setiap bentuk dukungan untuk tujuan politik.“Mereka ragu-ragu ketika harus mendedikasikan energi dan sumber daya untuk mengakhiri pendudukan Indonesia dan mencapai kemerdekaan politik untuk Papua,” tulisnya.“Saya telah mendengar orang-orang berkemauan baik yang mengatakan bahwa mereka tidak dapat terlibat dalam aksi politik dan membatasi diri mereka pada advokasi hak asasi manusia.“Beberapa menyarankan bahwa penentuan nasib sendiri adalah mimpi yang mustahil bagi orang Papua dan bahwa tujuan yang lebih rendah harus dicari.”(Editor: Eben E. Siadari)WAWANCARASATUHARAPAN.COMDENGAN IBRAHIM PEYON ANTROPOLOG PAPUA.Satuharapan.com:Fiji dan Papua Nugini (PNG) selama ini dekat dengan Indonesia. Marshall Islands dan Nauru juga sudah mulai melunak sikap kritisnya terhadap Indonesia, terkait dengan isu Papua. Apa pendapat Anda?Ibrahim Peyon: Posisi pemerintah PNG dan Fiji sudah sejak awal mendukung pemerintah Indonesia untuk kasus Papua.Kedua negara ini juga mendukung Indonesia untuk menjadi anggota obsever tahun 2013 di Kanaky dan anggota asosiasi di Salomon tahun 2015. Di mana saat itu, Indonesia membentuk kelompok Melindo (Melanesia-Indonesia) dan mengklaim memiliki 11 juta penduduk Melanesia di lima provinsi..Isu 11 juta penduduk Melanesia ini tidak berdasar dan hanya rekayasa belaka. Karena tiga Provinsi di luar dua Provinsi Papua itu bukan Melanesia, mereka adalah kelompok campuran dari Melayu, Polinesia, Melanesia dan Australia (bisa lihat artikelhttp://suarapapua.com/…/melindo-politik-melanesiasi-diri-d…/). Tetapi, faktanya isu Melindo itu sudah tenggelam dengan sendirinya di MSG saat ini dan yang hadir secara nyata di sana adalah Indonesia sebagai anggota asosiasi dan ULMWP sebagai obsever untuk mewakili Papua. Dalam wawancara di TV PNG bulan lalu ketua MSG dan juga perdana Menteri PNG Peter O Neil mengatakan, Indonesia menjadi anggota asosiasi di MSG untuk kepentingan ekonomi, sedang ULMWP menjadi Observer karena dulu Papua pernah ada di daftar dekolonisasi tahun 1960-an.Satuharapan.com:Sebetulnya, apa tujuan MSG menerima Indonesia dalam konteks isu Papua?Ibrahim Peyon: Indonesia diterima menjadi asosiasi di MSG itu dengan tujuan utama adalah memberikan tempat untuk menyelesaikan masalah Papua dengan damai, tetapi Indonesia sendiri tidak bersedia menerima itikad baik itu. Justru sebaliknya, Indonesia mempengaruhi negara-negara MSG dan Pasifik dengan keinginannya sendiri. Tetapi, sikap PNG dan Fiji dalam KTT MSG bulan lalu di Port Moresby menunjukkan hal yang berbeda. Pemerintah PNG menerima delegasi ULMWP dengan protokeler resmi negara, sama dengan delegasi Indonesa dan negara-negara anggota MSG lain. Para pemimpin MSG juga sudah disepakati dan menyetujui kriteria baru MSG untuk anggota penuh, asosiasi dan obsever. Aplikasi ULMWP sudah disepakati, disetujui dan diteruskan di sekretariat MSG untuk diproses selanjutnya.Tetapi berita yang dikembangkan oleh delegasi Indonesia yang hadir di sana sangat berbeda. Mereka kembangkan berita versi baru menurut keinginan mereka sendiri. Mereka lari dari substansi berita itu. Di mana delegasi Indonesia publikasikan di berbagai media di Indonesia bahwa aplikasi ULMWP ditolak di MSG. Ini berita tidak benar yang dilakukan secara sadar dan sistematis.Pada sisi lain sudah terlihat jelas pemerintah Indonesia juga sedang kecewa terhadap sikap negara-negara anggota MSG khususnya PNG dan Fiji dalam KTT di Port Moresby itu. Akhir bulan lalu,satuharapan.commenulis pernyataan juru bicara kedutaan besar Indonesia untuk Australia bahwa, mereka sudah membiayai uang dan kendaraan operasional untuk Sekretariat MSG ketika lembaga itu mengalami krisis keuangan tahun-tahun terakhir ini. Pernyataan itu sudah menunjukkan sikap kecewa atas diterimanya aplikasi ULMWP dalam KTT di Port Moresby itu. Artinya bahwa hubungan ekonomi dan perdangan dengan PNG dan Fiji tidak mampu membeli moralitas manusia yang memiliki hati nurani, dan nilai-nilai kebenaran.Satuharapan.com:Artinya, pendekatan terhadap PNG dan Fiji itu juga akan bernasib sama dengan pendekatan kepada Marshall Islands dan Nauru?Ibrahim Peyon: Pendekatan ekonomi dengan Marshall Islands dan Nauru jelas tidak berbeda dengan PNG dan Fiji. Tujuan utama pendekatan Indonesia dengan Nauru adalah untuk menghambat agenda Papua masuk dalam pertemuan Pacific Islands Forum (PIF) tahun ini, karena Nauru akan menjadi tuan rumah. Tetapi ingat, bahwa agenda pertemuan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah dan negara tuan rumah tetapi masih banyak aktor lain termasuk rakyat sipil. Bila rakyat sipil mendorong agenda dan mendesak pemerintah mereka untuk dibahas, apapun harga yang dibayar pemerintah Indonesia, agenda Papua akan tetap diloloskan. Indonesia sendiri tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan Marshall Islands selama ini tetapi hubungan ini dibangun hanya untuk meredam masalah Papua, tetapi saya yakin rakyat sipil negara-negara itu sudah tahu, bahwa hubungan itu bukan murni kepentingan ekonomi tetapi untuk kepentingan politik yang dibungkus dengan isu ekonomi.Pertemuan Menlu Retno dan Mekopolhukam Wiranto melibatkan 43 kementerian dan institusi terkait bulan lalu adalah jelas agenda politik dan bukan ekonomi. Pendekatan ekonomi hanya sebagai jalan untuk menembak sasaran. Indonesiaingin bangun 14 negara Pasifik dengan melibatkan semua kementerian. Kita bisa bayangkan, berapa banyak uang yang akan dikeluarkan untuk membangun 14 negara Pasifik itu? Bila dikalkulasi untuk setiap tahunnya sangat besar. Apakah negara-negara Pasifik itu masih miskin dan terbelakang maka diperlukan bantuan Indonesia? Indonesia sendiri sudah maju, modern dan secara ekonomi kuat? Bagaimana dengan utang negara terus bertambah? Bagaimana dengan korupsi merajalela di mana-mana di Indonesia? Tingkat pengangguran dan kemiskinan tetap masih tinggi? Indonesia sendiri telah gagal membangun Papua selama 54 tahun, bagaimana Indonesia membangun 14 negara Pasifik itu?Pada sisi lain, pernyataan Menlu Retno dan Menkopolhukam Wiranto ini seolah-olah merendahkan dan melecehkan martabat negara-negara Pasifik itu. Pemerintah Indonesia memposisikan diri modern, maju maka mereka mau membangun negara-negara miskin dan terbelakang. Ini sebuah stigma yang selama ini ditujukan kepada rakyat Papua itu, dialihkan kepada negara-negara Pasifik itu. Sebenarnya Indonesia sendiri yang membutuhkan dan mencari dukungan di sana, bukan negara-negara Pasifik itu. Saya yakin negara-negara Pasifik akan melihat dan menganalisis hal-hal seperti ini dan mereka juga tidak hanya menerima tawaran ekonomi itu secara utuh. Karena sebuah negara tidakbisa dibeli dengan uang dan ekonomi. Mereka adalah negara yang memiliki integritas, martabat dan moral. Memang sisi lain hubungan ekonomi itu dapat melemahkan dukungan di negara-negara itu, tetapi mereka juga sebagai negara demokraksi memiliki harga diri dan jalan pikiran mereka sendiri, yang disebut Pacific way.(Kgr)

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: