DALAM 2 MINGGU 40 ANAK PAPUA MENINGGAL

Dalam Dua Minggu 40 Anak-Anak Meninggal Dunia di Mbuwa Kab. NdugaPenyelamatan Tanah dan Manusia Papua di deklarasi oleh Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, bersama Perwakilan Orang Asli Papua dari 7 (tujuh) wilayah Adat se-Tanah Papua dan Pemerintah Provinsi Papua dan Provinsi Papua pada awal bulan Oktober. Namun di bulan yang sama terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa kampung di Distrik Mbuwa Kabupaten Nduga. Kejadian luar biasa ini menimpa anak-anak umur dibawah umur 7 tahun, yang meninggal berturut-turut hanya dalam waktu 2 (dua) minggu, korban ke 40 yang dicatat meningga tanggal 17 November 2015.Tim Medis dari dinas kesehatan Kabupaten Nduga turun untuk mekalukan imunisasi di wilayah Mbuwa (bulan Oktober). Setelah mereka pulang ke Wamena, mereka mendapat informasi tentang anak-anak yang meninggal secara berturut-turut.Time medis ini lalu kembali turun ke lokasi di awal bulan November untuk mengambil sampel darah. Gejala penyakit tersebut adalah “seluruh badan anak-anak tersebut awalnya panas tinggih kemudian mendingin, lalu tetap dingin sampai dengan menghembuskan nafas terakhir (meninggal dunia).” Informasi yang di peroleh tim medis dari masyarakat bahwa sebelum penyakit ini meyerang anak-anak kecil, terjadi wabah yang menyerang dan mematikan ternak babi dan ayam piaraan masyarakat. Tim medis kembali ke Wamena tanggal 17 November 2015, dan mereka mendapat kabar anak ke 40 telah meninggal, anak yang terakhir diambil sempel darahnya oleh tim medis.Menuruy salah satu medis “Satu dari 70 anak yang kami ambil sampel darahnya pada hari selasa tanggal, 16 November2015 warna darahnya hitam pekat sehingga kami memberi kode pada namanya, ternyata anak tersebut meninggal dunia pada tanggal, 17 November 2015 setelah kami (Tim Medis) tiba di Wamena membawah ampel darah, dengan demikian kematian anak tersebut menggenapkan jumlah kematian menjadi 40 (empat puluh) anak, kami trauma dan stress untuk menangani para pasien tersebut, kami bingung karena hasil pemeriksaan darah dilaboratorium Negatif. “Kejadian tersebut telah dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi oleh Petugas Kesehatan Kabupaten Nduga, namunDinas Kesehatan Provinsi memintah agar petugas kesehatan Kabupaten Nduga dapat mengambil sampel darah untuk selanjutnya diperiksa dilaboratorium di Wamena Kabupaten Jayawijaya. Tim Kesehatan telah mengambil sampel darahdari 70 (tujuh puluh) orang anak dari bererapa kampung di daerah Mbuwa namun setelah diperiksa sampel darah di Wamena hasilnya Negatif (TIDAK ditemukan hasil).Di duga kematian anak-anak di wilayah Mbuwa disebabkan oleh VIRUS HOGHCOLERA yang menyerang ternak babi danayam, virus tersebut telah bermutasi dan menyerang manusia. Kejadian Luar Biasa atas kematian ternak babi, pernah terjadi wilayah pegunungan tengah Papua antara tahun 2005 sampai dengan tahun 2010. Wabah ini menyebabkan kematian ribuan ekor ternak babi piaraan masyarakat disepanjang wilayah Pegunungan Tengah Papua. Pada waktu itu sampel darah babi dikirim oleh Dinas Peternakan Kabupaten Jayawijaya ke Laboratorium di Makassar – Ujung Pandang untuk diperiksa, setelah 3 (tiga) bulan di temukan sejenis virus yang namanya Hogcholera.Virus Hogcholera telah memusnakan ribuan ekor ternak babi milik masyarakat, babi merupakan ternak yang sangat berhubungan erat dengan kehidupan manusia di Pegunungan Tengah Papua, bahkan di pesisir pantai Papua. Ternak babi (daging Babi) sebagai sumber protein bagi manusia, juga merupakan sumber pendapatan utama bagi keluarga. Selain nilai jual yang tinggi ternak babi juga mempunyai nilai budaya, yaitu; sebagai alat barter, alat pembayaran mas kawin, pembayaran denda dalam suatu persoalan misalnya: pembunuhan, perzinaan, pencurian dan sebagainya. Lebih dari itu babi juga di pakai dalan upacara-upacara(ritual) adat dan budaya dengan demikian babi mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan bermasyarakat di Tanah Papua sehingga saat itu Hogcholera telah menghancurkan “tatanan kehidupan” Orang Asli Papua di di Pegunungan Tengah Papua.Kami sebagai anggota Majelis Rakyat Papua dari Dapil-VIII mengatakan bahwa Kasus ini merupakan Kejadian Luar Biasa karena hanya dalam waktu 2 (dua) minggu saja 40 (empat puluh) anak telah meninggal dunia dan kejadian ini merupakan tantangan bagi Orang Asli Papua dalam melaksanakan hasil Deklarasi Penyelamatan Manusia Papua, sehingga kami mengharapkan dan mendesak kepada :1. Peperintah Kabupaten Nduga agar serius menangani Kasus ini.2. Pemerintah Provinsi lewat Dinas Kesehatan segera menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga dapat segera mengambil langkah-langkahkongkrit di lapangan untuk memutuskan jaringan virus yang mematikan ini agar tidak merambat ke Distrik dan Kabupaten lain di Pegunungan Tengah.3. Memintah kepada Pemerintah agar dapat melindungi dan menyelamatkan anak-anak di Kampung dari malapetaka wabah yang sedang terjadi di Mbuwa.Jayapura, 21 November 2015LUIS MADAIANGGOTA MAJELIS RAKYAT PAPUAUtusan DAPIL-8 Kabupaten : NDUGA, LANY JAYA DAN TOLIKARA.Kontak person; 082399472277Tentang Kab. Ndugahttp://ndugakab.go.id/https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Nduga

Comments are closed.

%d bloggers like this: