SEJARAH PERMULAAN INJIL MASUK DI WILAYAH BOMELA DARI ZENDING NRC-BELANDA

SEJARAH PERMULAAN PEKABARAN INJIL DI BOMELA DARI ZENDING NRC

PEMBUKAAN POS PEKABARAN INJIL DI DI BOMELA

Daerah Bomela merupakan bagian dari suku UNA dengan Dialek Bhasa UNA. Jumlah Penduduk pada tahun 1979 kira-kira 1.000-2.000 jiwa orang, hingga sekarang dapat berkembang mencapai 10.000-11.000 jiwa orang. Daerah Bomela berada pada dataran 1.000 kaki dari permukaan laut. Dan daerah Bomela lebih dekat dengan Langda dan Sela bagian selatan Wilayah Pegunungan Tengah Papua. Daerah ini termasuk Wilayah Distrik Bomela Kabupaten Yahukimo. Jarak antara ibu kota Kabupaten Yahukimo dan Distrik Bomela kurang lebih 2.000 kilometer, kalau berjalan kaki mencapai 3 hari 3 malam.
Nama Bomela diambil dari salah satu nama kampung di Bomela dan tempat yang menjadi pos untuk melaksanakan pekabaran Injil adalah kampung SUMBAT yang lembah (tanah yang rata). Masyarakat Bomela dahulu sebelum injil masuk, mereka belum ditemukan oleh orang dari dunia luar. Namun masyarakat Bomela sendiri sudah ada kontak dengan masyarakat luar seperti Suku Ngalum, Kimyal, Mek, Kopkaka, dan sekitarnya, tetapi masih dalam situasi kebudayaan yang sama seperti biasanya merrka hidup. Adapun juga sebelum Injil masuk didaerah Bomela sudah menjalin hubungan baik denagn suku Ngalum dan Kimyal daerah pelayanan Zending RBMU dan pernah mengenal barang-barang modern seperti kampak, parang, skop, dll.
Pada tahun 1973, sejak mulai pelayanan Missi di Langda, masyarakat Bomela sering datang ke Langda sehinngga mulai mengenal dengan penginjil-penginjil dan Missi NRC. Bapak Yuan Maling adalah seorang kepala suku besar didaerah Bomela, ia menikah dengan seorang wanita yang berasal dari Langda, melalui itu ia telah membangun komunikasi yang harmonis dengan masyarakat Langda dan para penginjil-penginjil diLangda. Ia seorang yang hatinya terbuka meminta pelayanan pemberitaan Injil di Bomela. Atas undangan dan keterbukaan Bapak Yuan Maling, para Missionaris Zending NRC mengambil keputusan untuk membuka pos pekabaran Injil (PI) di Bomela.

1. LAPANGAN TERBANG DI BOMELA

Pada Tnggal 9 Mey 1975, Jan Louwerse Hofland, Kornelis Kombo, dan Piter Wabdaron mengadakan rapat di Langda untuk merencanakan pembukaan Pos pekabaran Injil di beberapa tempat yakni Bomela, Sumtamon, dan sekitarnya. Hasil rapat itu dapat dilanjutkan oleh Bapak Kornelis Kombo dalam rapat umum Pengijilan di Pass-valley. Dalam rapat tersebut telah mengambil keputusan bahwa pertama, beberapa daerah suku UNA untuk membuka pos pekabaran Injil. Kedua, Pengijil dari luar tidak akan minta lagi dan dilanjutkan oleh penginjil-penginjil dari NRC/GJPI sendiri. ketiga, Penginjil-Pengilnjil Yali dari Gereja pass-valley dan Landikma akan melayani didaerah Langda,Bomela,Sumtamon.

Kornelis Kombo kembali ke Langda dan selanjutnya pada tanggal 14 Mey 1975, mengadakan survei melalui udara dengan pesawat milik Yayasan MAF di Bomela, Sumtamon dan sekitarnya. Kemudian beberapa minggu setelah itu Bapak Kornelis Kombo bersama rombongan besar dari Langda berjalan kaki ke Bomela dan kira-kira tiba jam 17.00 WIT sore di Kampung sumbat. Masyarakat Bomela menerima mereka dengan baik ditandai dengan upacara bakar batu dan dalam kesempatan itu Kornelis Kombo menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan rombongan dalam bahasa mereka untuk dipahami.Keesokkan harinya rombongan mengelilingi seluruh daerah Bomela dan melakukan survei tempat lapangan terbang. Ternyata mereka telah menemukan tempat yang cocok dikampung Sumbat dan langsung diukur. Panjangnya 600 meter dan lebar 40 meter. Hari berikutnya mereka kunjungi Kampung Bomela dan Kitikni dengan tujuan ingin mengetahui reaksi penduduk setempat Bomela apakah semua pihak menerima Pelayanan pemberitaan Injil di daerah Bomela untuk kemudian hari Ternyata hasil kunjungan itu sangat positif.
Setelah itu mereka kembali lagi ke Langda tinggal beberapa bulan untuk mempersiapkan bahan material lalu kembali lagi ke Bomela untuk membuat tempat pendaratan Helikopter sekaligus mempersiapkan kayu buah untuk membangun rumah Missionaris pdt.G.Kuijt. Kornelis Kombo bersama Pdt.C.Vreugdenhil berjalan kaki ke Bomela ketiga kalinya untuk mulai melaksanakan pembangunan rumah Missionaris sekaligus mengadakan Doa untuk pelaksanaan pembuatan lapangan terbang kepada TUHAN yang dipimpin oleh Pdt.C.Vreugdenhil. Tahun 1976, secara resmi Pdt.G.Kuijt dengan keluarganya juga bersama pekerja lapangan terbang orang Yali dari Landikma dengan jumlah 27 orang diangkut dengan Helikopter tiba di Bomela. Para pekerja lapangan terbang memulai dengan menghabiskan waktu selama kurang lebih 6 bulan dengan panjang 400 meter. Setelah itu Pdt.G.Kuijt mengambil cuti ke negeri Belanda, maka pekerja lapangan terbang juga semua ingin pulang ke daerah mereka masing-masing. Dan selama 3 bulan lamanya pos baru pekabaran Injil Bomela masih kosong karena takut mengingat pengalaman peristiewa yang pernah terjadi di Nipsan. Sementara pos Bomela masih kosong hanya beberap penginjil dari Langda menjalankan kunjungan kepada masyarakat. Dan akhirnya Bapak Kornelis Kombo dan Piter Wabdaron memimpin penginjil dan masyarakat asli Langda untuk melanjutkan pekerjaan lapangan terbang sebahagian yang belum diselesaikan panjang 200 meter.
Pada tanggal 3 mey 1977, Pdt.G.Kuijt memohon penerbangan kepada Yayasan MAF untuk mengadakan ceck out oleh PILOT BOB BREUKER di lapangan terbang Bomela. Sehingga hasilnya lapangan sangat baik dan itu merupakan pendaratan pertama oleh Pesawat jenis Cessna dengan selamat.

2. PROSES PENYEBARAN INJIL

         Pada tahun 1977, setelah selesai lapangam terbang,meminta tenaga Pengijil Yali dari Gereja Landikma untuk memberitakan Injil kebenaran di Wilayah Bomela. Dari Gereja LANDIKMA mengutus 12 orang penginjil untuk melaksanakan tugas pemberitaan Injil. Waktu yang sama Zuster Marry Van Mooleenbroek seorang tenaga Zending NRC diberikan tugas sebagai ahli perawat di Bomela. Ia seorang wanita yang penuh keberanian dan penuh tanggungjawab yang sangat besar untuk memimpin dan mengkoordinir bersama penginjil Bapak Yonas Mabel, untuk Pelayanan di Bomela saat situasi masih rawan sekali. Namun Ia sangat setia dalam panggilan ALLAH di wilayah selatan pedalaman Papua. Sebab Ia melayani dalam saat cukup lama di papua, kurang lebih 28 tahun lamanya. Pada tahun 1977, para penginjil tinggal di pos Sumbat untuk mempersiapkan diri belajar bahasa, budaya, dan membangun komunikasi dengan masyarakat setempat. Setelah beberapa lama kemudian para Penginjil membagi tugas dan ditempatkan kekampung masing-masing untuk memulai memberitakan Injil dan sekaligus membangun rumah ibadah darurat. Lama kelamaan masyarakat Bomela mulai mengerti sedikit demi sedikit cara-cara orang menjadi Kristen sehingga injil terus menerus diberitakan di daerah Bomela.

3. PANDANGAN MASYARAKAT BOMELA TERHADAP INJIL

Masyarakat di daerah Bomela sebelum Injil masuk, mereka selalu datang ke Langda untuk mengamati dan mempelajari semua perkembangan yang sedang terjadi didaerah Langda. Perkembanagan yang sedang terjadi di Langda adalah pelayanan Injil dan pembangunan fisik. Beberapa orang yang datang ke Langda telah menyaksikan Missionaris dan para penginjil telah masuk di Bomela dan oleh masyarakat mereka diterima dengan hati terbuka. Adapun Bapak Juan Maling, seorang tokoh masyarakat mempengaruhi kehadiran Pdt.G.Kuijt, sebagai Missionaris dan para penginjil untuk kepentingan dan kebaikan bagi masyarakat didaerah Bomela. Bapak Juan Maling sebelumnya tentu menerima sesuatu barang yang cukup berharga baginya, sebagai alat kontak antara dia dengan Missionaris serta para Penginjil.
Pada waktu itu ia menerima mereka tidak sebagai panglima perang yang menantang mereka, tetapi dengan sikap penuh bersahabat. Atas sikap keakraban Panglima besar itu, rakyatnya menganggap mereka ini orang-orang yang datang unntuk menolong dalam berbagai hal sama seperti pelayanan di Langda daerah sebelum pos Bomela. Setelah mereka disambut oleh masyarakat Bomela sebagai tanda keakraban itu ditandai dengan upacara adat. Hal yang sangat abstrak dialami oleh masyarakat Bomela adalah masih belum yakin bahwa mereka adalah sungguh-sungguh manusia atau orang mati datang menjelma menjadi manusia. Keragu-raguan itu muncul dari pandangan masyarakat Langda terhadap misionaris dan Pengijil. Pandangan kedua tentang injil adalahmereka mendengar Firman Tuhan tentang Penciptaan Allah dan nama Yesus Kristus, tetapi sangat tidak mengerti dan merupakan hal yang baru. Tetapi hubungan kepercayaan terhadap Allah mereka sangat cepat dibandingkan dengan agma suku lokal. Walaupun demikian, lama-kelamaan masyarakat daerah Bomela mengakui bahwa Missionaris dan para Pengnjil membawa berita yang baik untuk mendamaikan peperangan antara musuh-musuh mereka antar Kampung atau daerah (Langda dan Bomela), menjadi bersatu sebagai sahabat-sahabat dari suku yang sama. Namun pandangan masyarakat yang lebih menonjol adalah Kapak Batu di ganti dengan Kapak Modern, parang dengan sikop itu menjadi Positif daripada injil yang sedang diberitakan pada waktu itu.

4. ORANG PRIBUMI YANG PERTAMA KALI MENERIMA INJIL

Baru saja dijelaskan poandangan masyarakat Bomela Terhadap Injil Tersebut  Bahwa Injil Itu lambat-laun Allah mulai bekerja melalui Roh Kudus didalam hati beberapa orang asli yang terkemuka dalam masyarakat di Bomela dianataranya adalah sebagai berikut:
1) Kampung Sumbat
2) Kampung Kitikni
3) Kampung Bomela
4) Kampung Kubiyalar
5) Kampung Yalmaby
6) Kampung Balamdua.
          Pada tahun 1976-1977, para penginjil mengabarkan injil secara serentak diseluruh daerah Bomela. daerah Bomela termasuk injil yang lebih cepat MAJU, karena karena penginjil-penginjil menggunakan metode yang sangat efesien yaitu dari penginjil YALI, DANI, didampingi dengan beberapa Pemuda dari Langda yang memakai bahasa dan budaya yang sama. Enam orang Pribumi yang menerima Injil adalah:
1) Yuan Maling
2) Obyakib Maling
3) Markus Balyo
4) Pontius Maling
5) Bey Alya
6) Wey Alya
Mereka yang sangat cepat menerima injil, dan orang-orang sebagai orang pertama yang menerima injil di daerah Bomeladan menjadi sejarah dalam menerima Injil di wilayah Bomela.
Pada tahun 1978, dalam rapat penginjil di sumbat mengambil keputusan bahwa para pemuka Injil tersebut disetujui memilih beberapa orang diantaranya yang sangat terpengaruh membawa kedaerah lain untuk menjalankan orientasi kepada Gereja-Gereja pertama di Landikma dan Pyramid di bawah pimpinan Bapak penginjil Yonas Mabel bersama Kornelis Kombo selama kurang lebih satu minggu.Setelah tim orientasi dan study banding itu kembali ke Bomela,mereka membawa suatu pengaruh yang baik dan sangat positif yaitu ;
1.Mereka meyakinkan kepada seluruh masyarakat Bomela bahwa Injil dibawakan oleh Missionaris dan para penginjil adalah benar-benar berita kesukaan besar bagi semua orang.Sebab didalam Injil itu ada Kasih,Persaudaraan,persekutuan,damai,sukacita,dan kesejahteraan.
2.Jikalau setiap orang didaerah Bomela menerima Injil harus melepaskan semua unsur-unsur penyembahan berhala atau sebagai alat-alat kekafiran.
3.Untuk syarat yang menjadi Kristen yang harus dialami oleh masyarakat di Bomela adalah menyerahkan diri untuk menerima tanda Baptisan Kudus.
Dari pengaruh pengalaman mereka di gereja-gereja,merka membawa hasil dan kemajuan Injil terjadi di daerah Bomela.Hasilnya pada tahun 1980,masyarakat Bomela melakukangerakan pembakaran alat-alat berhal sebagai tanda penerimaan Injil..Setelah melaksanakan pembakaran benda-benda sakral itu,tidak lama kemudian terjadi suatu konflik antara kepala suku Opyakip Maling dengan Para penginjil-penginjil.Sebab terjadinya pembongkaran tempat-tempat sakral atau keramat dianggap melanggar agama suku.
Kepala suku Opyakip Maling dengan keluarga sebagai hukuman dikirim ke Landikma tinggal selama 5 tahun,setelah itu kembali ke Bomela.Sesudah itu banyak orang di Bomela menerima Injil.Suatu kesaksian lain yang membuat mereka terima Injil yaitu Bapak Markus Balyo,sejak Injil belum masuk didaerah Bomela,ia sakit kudis di seluruh tubuh namun Zuster Marry Van Mooleebroek mengobati dia dengan minyak creosot.Tidak lama kira-kira satu minggu kemudian Markus Balyo mengalami kepulihan total dari kesakitan kudis.Ia memmberi kesaksian kepada seluruh masyarakat di daerah Bomela sehingga banyak orang percaya atas peristiwa yang telah terjadi itu.Hasil dari kesaksian itu banyak orang mulai adakan pendekatan kepada penginjil-penginjil akhirnya RohKudus mulai bekerja dalam hati manusia didaerah Bomela.
Akhirnya dari beberapa tokoh terkemuka itu mempengaruhi dan meyakinkan kepada masyarakat Bomela bahwa para Missionaris dan penginjil-penginjil datang dari jauh,sukacita Dn berita Injil yang mereka bawa adalah berita Ilahi dari ALLAH untuk kita semua mendapatkan hidup yang kekal..

5. RUMAH IBADAH DARURAT
Pengaruh Terkemuka Enam Tokoh yang tersebut sangat positif, sehingga penginjil-penginjil dengan semangat memperitakan Injildi seluruh wilayah Bomela. Hasil pemberitaan itu adalah memulai pembangunan Ibadah Darurat Pertama di kampung Sumbat. Setelah beberapa bulan kemudian secara serentak di Kampung Kitikni, Kampung Sumbat, Kampung Kitikni, Kampung Bomela,  Kampung Kubiyalar,  Kampung Yalmaby, dan Kampung Balamdua. Dibangun tempat Ibadah.
Setiap hari minggu seluruh masyarakat di setiap Kampung masuk ibadah, tidak sepereti biasanya seperti berkebun, dan jalan-jalan dari kampung ke kampung tapi setiap hari minggu berkumpul di tempat Ibadah di tempat ibadah darurta untuk melakukan kebaktian ibadah. Atas kesetiaan itu Tuhan bekerja dalam kehidupan masyarakat  untuk mengerti dan menerima injul Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi mereka.

6. PEMBAPTISAN PERTAMA KALI

Pada tahun 1980, terjadi gerakan pembakaran alat-alat Budaya dan benda Sakral secara serentak di semua kampung yang di Wilayah Bomela. Sesudah itu selama satu tahun penginjil-penginjil mencalonkan orang-orang yang bersediamenerima baptisan Kudus dengan pengajaran Alkitab.
Pada tahun 1982, menerima pembaptisan Kudus pertama kali terdapat 10 orang dewasa dan 5 anak. Mereka yang menerima bapisan Kudus adalah sebagai Berikut:
1) Yuan Maling dan Keluarganya
2) Bey alya
3) Markus Balyo
4) Wey Alya
5) Obyakib Maling
6) Bontius Maling
7) Dan beberaapa perempuan juga ikut di Baptis.
Pembaptisan pertama kali dilakukan oleh Missionaris Zending NRC terhadap 10 orang dewasa dan 5 anak kecil yang merupakan kelompok pertama kali menjadi orang Kristen. Kemudian injil terus menerus diberitakan sehingga dari tahun ke tahun banyak orang dibaptis sampai sekarang jemaat-jemaat di Bomela menjadi besar dan telah di bentuk satu wilayah Klasis sendiri.

7. PEMBUKAAN POS PENGIJILAN BARU

Gereja di Bomela makin lama menjadi besar dan membentuk satu Klasis tersendiri. Tidak lama kemudian, Gereja di Bomela melakukan Survey dan pendekatan kepada masyarakat suku MOMUNA, di samboga. Pada tahum 1985secara resmi di buka Pos samboga dibuka sebagai Pusat pemberitaan Injil di daerah samboga. Samboga adalah Pos Pekabaran Injil dibawah Pimpinan Klasis Bomela dan sampai sekarang masih tetap sebagai Pos Penginjilan (PI).

Sumber: SEJARAH PERKEMBANGAN GEREJA JEMAAT REFORMASI PAPUA ( G J R P ), Oleh Pdt Malhus Nekwek, M.Th
PERTAMA KALI TERIMA INJIL DI WILAYAH BOMELA
Pada tahun 1976, di Bomela par pemberita injil mulai survey, dan pada waktu itu yang pertama sekali terima injil waktu survey lokasi adalah di Kampung Kitikni Lama (Kitikni Bagian atas), pada waktu itu survey dilakukan dengan menggunakan helykopter, dan mendarat di kitikni bagia atas (Kitikni lama), pertama sekali bwah muka adalah dan datang dekat Helycopter adalah adik Kak diantaranya:
1. Elias Aruman (datang dekat Helly, dengan alat lengkap Panah & Busur)
2. Agunda Aruman (jaga dekat pintu masuk Helly, untuk antisipasi terjadi apa-apa di adik elias Aruman yang datang dekat Hellycopter)
3. Saulus Alya (orang ini mengintip-intip Elias Aruman dan Agunda Aruman yang datang dekat helyicopter, supaya terjadi apa-apa lapor sama masyarakat yang lain).
Ternyata yang terjadi waktu itu oleh para misionaris bersama penginjil adalah kasih GARAM, PARANG dan KAMpAK, dan ketiga orang ini sangat senang dan terima merreka dengan senang hati, dan misionaris perakkan cara penggunaannya kepada ketiga orang itu. Dan tim misionaris disitu juga orang-orang Langda ikut, kebetulan yang ikut dari langda adalah om-om dari Elias Aruman dan Agunda Aruman.
Dari situ hari selanjutnya mulai trun dibeberapa kampung di Bomela terutama Kampung Sumbat dan Kampung Bomela.

Sumber: (Wawancara Antara Timeus Aruman & Elias Aruman, waktu
YUBELIUM 50 tahun GJRP di Abenaho, 29 Oktober 2013)

Posted from WordPress for Android

Comments are closed.

%d bloggers like this: