Sangat Bangga Menjadi Warga Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP)

Sangat Bangga Menjadi Warga Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP)
Penulis : Panuel Maling (Anggota GJRP)
Gereja Jemaat Reformasi Papua yang disingkat GJRP adalah gereja yang benar bertumbuh dan berkembang dimulai dari kampung ke kota. Gereja ini kini tidak bisa dipandang sebagai gereja local, tidak bisa dipandang sebagai gereja penyesuaian. GJRP kini telah terbangun sejajar dengan gereja – gereja lain yang berasosiasi di Persekutuan Gereja – Gereja Papua (PGGP). Kini warga GJRP tidak bisa menyangkal diri peran gereja dalam kehidupan pribadi, keluarga, kelompok, kampung, marga, maupun suku. Terobosan Gereja sangat berperan aktif dalam mengembangkan kepribadian, entah melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Upaya Gereja dalam mensejahterakan kehidupan jemaatnya melalui pelayanan Rohani maupun Jasmani sangat luar biasa, pergerakan itu dilakukan melalui dua lembaga yang berbadan hukum yakni Yayasan Kristen Pelayanan Sosial Masyarakat Indonesia (YAKPESMI) yang bergerak di bidang pelayanan Jasmani untuk saat ini, sedangkan Yayasan Pendidikan Reformasi Papua (YPRP) bergerak di bidang Pelayanan Rohani. Kedua Yayasan ini bernaung dibawah Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP) yang diakui dan terdaftar di Kementerian Agama RI dan diakui sebagai gereja nasional itu.

Embrio GJRP berawal dari misi pelayanan Penginjilan yang dilakukan oleh Zending Gereformeerde Gemeenten (ZGG) di Belanda. Tepat 28 Oktober 1963 merupakan titik terbit terang pelayanan GJRP yang berawal di Abenaho, melalui masuknya sang Pekabar Injil Pendeta Gerrit Guijt. Kisah pelayanannya yang menelusuri pelosok – pelosok Papua terkenal dramatic dan penuh dengan mujizat. Meski demikian Injil terus disebar luaskan mulai dari Pass – Valley, Landikma, Nipsan, Langda, Bomela, Sumtamon dan beberapa Pos PI lainnya di wilayah pelayanan GJRP saat ini.

Ungkapan rasa syukur sudah selayaknya wajib di panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang adalah kepala Gereja, dimana oleh karena anugerah-Nya sehingga Ia mengutus seorang Pekabar Injil ke Papua untuk membawa jiwa – jiwa kehadirat-Nya dan memenangkan bagi-Nya. Ditengah tantangan yang penuh dramatic itu, Injil dapat disebar luaskan, sehingga melalui pemberitaan Injil itu kini warga GJRP mengenal pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan social. Terbukti, hanya karena Injil kini orang GJRP mampu menjadi Bupati, Ketua DPRD, Anggota DPRD/DPRP, kepala bagian, kepala bidang, Kepala Distrik, Dokter, anggota TNI/POLRI, Guru, Mantri, Pengusaha, Dosen dan berbagai profesi yang dicapai dan yang paling besar adalah mendirikan sekolah – sekolah unggulan, dimulai dari TK Yakpesmi, SD Yakpesmi, SMP Yakpesmi, SMK Yakpesmi, SMTK C.G.Vreugdenhil, dan STT Reformasi Wamena. Hasilnya sungguh sangat luar biasa, perkembangan itu tersebar di beberapa kabupaten yang ada di pegunungan tengah Papua, yakni Kabupaten Yalimo, Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Yahukimo.
Meski perkembangan Gereja sangat mumpuni aktif, tapi tantangan yang datang kepada pribadi, keluarga maupun dalam tubuh Gereja pun sangat besar. Tantangan itu mulai menerobos tubuh jemaat, sehingga eksistensi Gereja mengalami kemunduran. Tantangan itu lahir dari persaingan ekonomi, yang sering disebut dengan harTA, berikutnya adalah karena waniTA, dan tantangan lainnya adalah karena takhTA, yang sering disebut (3 TA). Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang sangat canggih, cepat dan proaktif. Sehingga terkadang jemaat salah menerapkan pentingnya teknologi dengan berkaca pada sisi negative.

Penulis artikel ini pun mengalami tantangan itu, dan dikenal tidak layak karena orang yang paling berdosa dari antara orang berdosa. Tapi meskipun begitu kini penulis menulis artikel ini berazaskan besar anugerah Allah dalam kehidupan pribadi yang harus berbalik pada Kristus, yang berpedoman pada percakapan Nikodemus seorang pimpinan agama Yahudi dengan Tuhan Yesus. Dimana dalam percakapan itu menitik beratkan tentang kelahiran baru, kelahiran baru secara Rohani. Berbicara tentang kelahiran baru adalah berbicara tentang pembaharuan secara total dan menyeluruh. Hal ini sangat tidak mungkin bagi manusia tapi bagi Tuhan, hal itu sangat mudah. Karena Tuhan tidak pernah memperhitungkan sejauh mana kita jatuh dalam dosa, walaupun Ia maha tahu, Tapi Ia mengharapkan seberapa besar hasrat yang lahir untuk berbalik kepada Kristus. Mengakui perbuatan – perbuatan yang bertolak belakang dengan hukum – hukum-Nya dan mengakui Tuhan Yesus sebagai sang Juruselamat manusia yang berdosa.
GJRP telah merayakan Yubelium (50 Tahun) Injil mulai diberitakan, tapi terkadang jemaat menyangkal diri dengan asal gerejanya. Tidak pernah ada dalam hati bahwa oleh karena GJRP setiap orang menjadi umat Allah, mampu menjadi anak – anak terang yang tentunya ditandai dengan perubahan – perubahan yang terjadi dalam kehidupan secara pribadi, kelurga, maupun suku. Betapa besar anugerah Tuhan yang dinyatakan melalui hamba – hamba-Nya tidak bisa dipungkiri, tidak bisa mengelak. Karena oleh Injil warga GJRP diperlihatkan dihadapan public dunia, segala sesuatu yang terjadi, yang dilakukan semuanya hanya semata – mata oleh karena Injil. Dimana Injil yang adalah Kristus sendiri.

Berdasarkan refleksi ini, saya (Panuel) sangat bangga menjadi warga Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP). Semoga artikel ini sangat bermanfaat buat para pembaca sekalian. Mohon maaf jika pembahasannya tidak lengkap, mohon supaya dapat memberikan tanggapan berupa kritikan dan saran yang bersifat membangun dan tidak bersifat menjatuhkan. TELEB!

Soli Deo Glory..!!

1 Comment

  1. Reblogged this on TELEBE News.

    Like

%d bloggers like this: