Luas Wilayah, Kendala bagi Media Massa di Papua

 

JAYAPURA—Wilayah Papua sangat luas, dengan penduduk yang  tersebar secara  tak merata, berakibat pada pemenuhan kebutuhann masyarakat akan media menjadi sulit dan mahal.
Demikian  disampaikan General Manager of Public Relation Kompas Gramedia Nugroho F Yudho ketika  Workshop Strategi Perencanaan Management dan Marketing bagi Media Massa  untuk Turut Serta Mendukung Pembangunan di Papua di Hotel Aston, Jayapura, Rabu (3/7).
Dikatakan, sumber daya di bidang  media konvensional maupun new  media masih  terbatas. Sehingga  perlu peningkatan kompetensi pelaku media.
Meski  sejarah pers  dan media  di Papua cukup panjang, namun media  tak tumbuh baik  di luar kalangan bisnis  media, seperti media  kampus, media komunitas maupun media kawasan.
“Kesadaran kalangan bisnis untuk menggunakan media  sebagai medium promosi,  beriklan atau melakukan sosialisasi  belum  berkembang dengan baik,” kata dia.

Namun demikian, Nugroho F  Yudho mengatakan,  secara kwantitas  pertumbuhan media massa di Papua lebih  banyak,  jika dibanding NTT dan NTB. Walaupun  masih dibawah wilayah-wilayah di  Sulawesi.
Kepala  Biro Humas dan Protokol  Setda Provinsi Papua Johana O.A Rumbiak, SE,MM  mengatakan 30 persen buta aksara dan 30 persen kemiskinan di Papua. Sisanya 70 persen bisa dimanfaatkan untuk  membaca media massa.
Staf Ahli Gubernur Papua  Bidang Pembangunan dan Hukum  JKH Rumbiak, SH mengatakan, perkembangan media telah merambah juga hingga ke Papua. Ketika sebelum  era reformasi di Papua hanya ada  2 media  elektronik  yaitu RRI dan TVRI, 1  Surat Kabar Harian Cenderawasih Pos dan 1 Mingguan Tifa Papua. Kini berkembang media massa baik cetak maupun elektronik di Papua sangatlah pesat. Suratkabar Harian  ada 6, Tabloid  ada 6 , TV ada 3,  radio  swasta sudah cukup banyak di Papua.
Kontributor Majala Tempo  di Jayapura Cunding Levi mengatakan, pekerja pers  khususnya  di Jayapura masih  mengeluh menyangkut kesejahteraan. Dimana sesuai  survey  yang dilakukan AJI Kota Jayapura pendapatan  seorang pekerja pers  kini dibawah UMP, padahal idealnya mereka dibayar  setidaknya Rp 6,4 Juta perbulan. (mdc/don/l03)

Comments are closed.

%d bloggers like this: