“Jangan Takut Dialog Jakarta-Papua”

Yan Douw: Masalah  Aceh  Diselesaikan Melalui Dialog, Mengapa Papua Sulit  Dialog

Kapolda Papua  Irjen (Pol) Drs. M. Tito Karnavian, MA,PhD tengah berbincang dengan Tokoh Gereja, Pdt. Lipius Biniluk  di Ruangan Rupatama, Mapolda, Rabu (3/7).JAYAPURA—Pemerintah Belanda didesak mendukung Dialog Jakarta-Papua,  untuk  penyelesaian masalah Papua yang digagas Jaringan Damai Papua  (JDP).
“Kami mengajak pemerintah Indonesia dan  orang Papua untuk jangan  takut  duduk bersama, berpikir  bersama dan bertindak bersama guna  menyelesaikan masalah Papua melalui  Dialog Jakarta—Papua,” tegas Biarawan Katolik  Yan Douw ketika  pertemuan Dubes Belanda Tjeerd De Zwaan bersama Kapolda Papua, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh  agama dan  tokoh pemuda di Ruangan Rupatama, Mapolda Papua, Jayapura, Rabu (3/7) petang.
Karenanya, kata  Yan Douw, pihakya mengajak Belanda, Amerika Serikat, PBB dan Indonesia, guna bersama menyelesaikan  masalah Papua.   “Kalau tak mampu,  silahkan  tanggungjawab  darah orang Papua bawa kepada Tuhan Allah,”  tegas Yan Douw.

Dikatakan Perwakilan Uskup Jayapura ini, pihaknya justru bertanya-tanya  mengapa  masalah  Aceh bisa diselesaikan melalui Dialog Jakarta-Aceh. Tapi  pemerintah Indonesia seakan  sulit  merespons  terjadinya  Dialog  Jakarta—Papua. Padahal Dialog Jakarta-Papua  bukan jalan  menuju Papua merdeka, tapi untuk menyelesaikan masalah Papua
Ketua  Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Lenis Kogoya, SH,MH menandaskan, informasi  kini yang dipublikasikan ke luar  negeri  menyangkut  masalah Papua merdeka  dan masalah politik, yang belum sepenuhnya sesuai realita. Karena itu,   beber Lenis, pihaknya minta kepada   pemerintah Belanda untuk memilah-milah informasi  yang diterimanya dari pelbagai  pihak.
Ketua Klasis GKI Jayapura Willem Itaar menandaskan, GKI  adalah salah-satu  Gereja  yang  datang dan lahir  dari pengabaran injil    dari Belanda dan  Jerman pada  5 Februari 1855 silam di Manokwari, Papua Barat. Seratus  satu tahun kemudian, GKI  lahir atas perjuangan besar  dari IS Kine  yang memperjuangkan lahirnya  GKI di Tanah Papua pada  26 April 1956.
Kata  Willem Itaar, GKI sebelum lahir   menjadi  Gereja.  Dia  salah-satu Gereja  yang  ikut  andil  untuk   NKRI ada di  Tanah Papua. Tapi  dalam waktu  berjalan  cukup banyak GKI ada  pada sebuah dilematis,  karena dia harus  ada  untuk membela hak-hak rakyat Papua dan juga dia  harus mempertanggungjawabkan dimana dia  menjadi  bagian  yang juga ikut  memperjuangkan NKRI ada  di Tanah Papua  hingga kini.
Kata Wellem Itaar,  Gereja-gereja  ini berandil  luar biasa  dalam menciptakan kondisi keamanan di Tanah Papua ini  sehingga terbentuk persekutuan Gereja  gereja Papua  di semua  tingkatan baik di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota.  
“Bicara  tentang Tanah Papua  adalah bicara tentang Belanda, karena Belanda  mempunyai andil  didalam membentuk sebuah negara berdaulat.  Dan pada tahun 1963 Papua menjadi  wilayah NKRI hingga kini,”  cetus Wellem Itaar.                
Sebelumnya, rombongan Dubes Belanda beraudensi dengan Pangdam XVII  Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua, MM dan Wagub Papua  Klemen Tinal. Rombongan ini juga akan melakukan pertemuan dengan DPRP,  MRP serta melakukan kunjungan ke Sarmi. (mdc/don/l03)

Comments are closed.

%d bloggers like this: