WPNCL : STATUS PAPUA AKAN DITENTUKAN DALAM PERTEMUAN PARA PEMIMPIN NEGARA-NEGARA MSG

Noumea – New Caledonia, 18/06 (Jubi) – Meskipun rekomendasi pertemuan para menteri luar negeri negara-negara Melanesian Spearhead Group (MSG) adalah menerima undangan Indonesia untuk mengunjungi Papua Barat, namun keputusan tentang proposal West Papua National Coalition Liberation (WPNCL) akan ditentukan oleh pertemuan para pemimpin negara MSG, tanggal 20-21 Juni nanti.

Delegasi WPNCL, tidak terlalu merisaukan rekomendasi pertemuan para menteri luar negeri negara-negara MSG yang merekomendasikan menunda pembahasan soal Papua Barat sampai MSG melakukan kunjungan ke Jakarta dan Papua.
“Undangan Indonesia untuk negara-negara MSG mengunjungi Jakarta dan Papua di luar konteks persoalan. Kami bukan datang dengan tawaran minta kesejahteraan untuk rakyat Papua. Kami datang untuk menuntut hak kemerdekaan kami yang telah dirampas oleh Indonesia. Keanggotaan MSG, memang satu hal yang kita perjuangkan. Tapi diterima atau tidak, rakyat Papua Barat telah diundang secara resmi untuk hadir dalam KTT MSG ini. Ini sebuah pengakuan dan satu kemajuan besar dalam perjuangan bangsa Papua.” kata John Otto Ondowame, presiden WPNCL, Selasa (18/06) di Noumea.

John Ondowame menambahkan bahwa semua keputusan tentang status Papua Barat dalam MSG ini tak bisa dilihat melalui keputusan pertemuan para menteri luar negeri saja. Masih ada pertemuan antar para pemimpin tertinggi yang akan dilakukan tanggal 20-21 Juni.
“Status WPNCL, akan ditentukan akhir minggu ini. Pertemuan para pemimpin tertinggi nanti lah yang akan menghasilkan keputusan final terhadap proposal WPNCL.” tambah John Ondowame.

Sebelumnya, Caroline Machoro-Regnier, perwakilan FLNKS menyatakan tetap akan mendukung  Rakyat Papua Barat.
“Gerakan kemerdekaan Kanak akan terus mendukung rakyat Papua Barat. Masalah ini muncul hari ini dalam MSG, itu karena FLNKS memintanya,” kata Machoro-Regnier, Selasa (18/06).

 

Machoro-Regnier menambahkan, FLNKS lah yang meminta perwakilan dari Papua Barat untuk datang ke Kaledonia Baru agar menjelaskan situasi Papua kepada anggota MSG.
“Kita tidak bisameninggalkan masalah Papua begitu saja. Semua pemerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat adalah penderitaan.” kata Machoro-Regnier.

Di tempat berbeda, Edward Natapei, Menteri Luar Negeri Vanuatu mengatakan, negaranya sangat ingin membahas soal Papua Barat pada pertemuan itu, tapi kalah suara dalam konsensus.
“Papua New Guinea, Fiji dan Solomon Islands, punya pandangan yang sama tentang undangan Indonesia. Vanuatu dan FLNKS yang berbeda. Kami kalah jumlah.” kata Natapei.

Namun Natapei mengakui bahwa Perdana Menteri Vanuatu, Moana Carcasses Kalosil akan mengemukakan masalah ini dengan para pemimpin MSG lainnya. Para pemimpin MSG juga akan mempertimbangkan apakah mereka akan menyetujui keputusan menteri-menteri luar negeri untuk mengirim delegasi MSG ke Jakarta dan Jayapura atau tidak.

Untuk meredam langkah negara-negara Melanesia memberikan status keanggotaan MSG pada WPNCL, Indonesia dikabarkan telah mengirimkan satu delegasi besar ke Noumea, diantaranya adalah Baltazar Kambuaya (Ketua), Abraham Atururi (anggota), Lukas Enembe (anggota), Fredy Numberi (anggota), Velix Wanggai (anggota), Frans Alberth Yoku (anggota) dan Nick Meset (anggota). (Jubi/Victor Mambor)

1 Comment

  1. Reblogged this on TELEBE News.

    Like

%d bloggers like this: