Pembakaran Kantor Polres Pegunungan Bintang, Adalah Bentuk Membelah Diri Dari Masyarakat

Masyarakat Bakar Kantor Polres Pegunungan Bintang
Oksibil –  Pegunungan Bintang  pada hari  minggu tanggal 16 Juni tahun 2013  pukul: 08.00 WP, telah beradu mulut antara salah seorang  anggota Polres Pegunungan Bintang dengan seorang  pemuda yang bernama  LEO ALMUNG, pada saat itu mengkonsumsi minuman beralkohol bersama–sama dengan salah satu anggota Polres Pegunungan Bintang. Namun seorang anggota Polres ini tidak terima akhirnya menembaki kaki kiri pada betis Leo Almung, sehingga Leo berlumuran darah dan  di larikan ke Rumah Sakit Oksibil untuk mendapatkan  perawatan  intensif dan  sampai sekarang masih  rawat di Rumah Sakit Oksibil.

Sedangkan dari media Bintang Papua edisi 17  Juni 2013  yang menulis penaggapan terhadap bandar togel sehingga terjadi penyerangan itu sangat tipu, sedangkan warga penduduk asli orang Oksibil tidak ada yang bandar togel di Oksibil, kecuali orang pendatang yang nota bene tidak punya tanah yang datang tempel seperi benalu itu yang bandar togel, maka informasi yang diterima Koran bintang Papua oleh Kabid. Humas Polda adalah, sangat tipu pembohongan public.
Dengan demikian salah seorang  saksi mata yang  berinisial K.L yang engan menyebut namanya atau  di mediakan, ia menjelaskan masyarakat  Distrik Oksibil tidak terima dengan perlakuan, pemukulaan  dan penembakan di kaki  terhadap seorang  pemuda yang bernama Leo Almung ini oleh anggota Polisi.  Akhirnya masyarakat dengan jumlah  banyak  datang ke kantor Polres Pegunungan Bintang untuk megusut kasus ini namun dari pihak Kepolisan  dalam hal ini  Kapolres Kabupaten Pegunungan Bintang, tidak ada respon untuk  penyelesaian secara persuasif, kepada masyarakat yang jumlah banyak datang di depan Kantor Polres itu.
Akhinya masayarakat  tidak terima dengan hal seperti ini, maka masyarakat dalam jumlahnya  yang cukup banyak membakar kantor Polres Kabupaten  Pegunungan Bintang.
Pembakaran  Kantor Polres Kabupaten  Pegunungan Bintang  ini  alasannya, karena simpan dendam dari tindakan aparat yang tidak menyenangkan hati masyarakat, kata K.L.
 
Pada insiden ini, aparat kepolisian membakar 2 rumah milik  Yance Kalakmabin, selaku kepala suku dan seorang lagi yang bernama Merukol Kalakmabin  Bendahara Dinas Pendidikan. Alasannya kedua orang ini mempunyai hubungan kerja sama dengan pelaku-pelaku yang melakukan tindakan pembakaran Polres Pegunungan Bintang, dan terlibat dalam insiden ini.
Sayangnya kedua orang ini sia-sia menjadi korban, pada hal yang tidak ada ketergaitan dengan kasus ini. Kerugiannya dalam dua rumah ini mencapai ratusan juta. Selain itu, para Polisi lampiaskan emosinya dengan menghancurkan kaca – kaca rumah milik warga sekitar 400 buah rumah juga hancurkan oleh aparat Kepolisian pada hari minggu tanggal 16. Semua korban kecewa atas tindakan aparat ini.
Trekait kasus ini, menurut Noldi Hilka menjelaskan informasi yang dihimpun via telepon di tempat kejadian. Dari hari kejadian sampai hari ini masyarakat sekitar tempat kejadian sedang mengungsi kearah timur, utara, barat dan selatan dari Polres Pegunungan Bintang. Masyarakat ketakutan, karena para Polisi niat melakukan tindakan lain terhadap mereka, kata Noldi.
Noldi menjelaskan, masyarakat tidak sembarang bertindak membakar kantor Polres Pegunungan Bintang, namun masyarakat setempat ada simpan dendam dengan tindakan aparat, pertama kali sama hal dilakukan karena orang asal Bugis produksi minuman beralkohol, sempat bentrok. Kejadian itu tahun 2012, lagi terjadi pada 2013 ini karena ayam koreng yang jualan di warung makan, karena pembelih melihat sudah bau dikembalikan kepada penjual. Hal itu penjual tidak terima, lapor kepada TNI, maka 10 prajurit datangi korban ini menembaki pada kaki kiri pada tulang kering. Karena itu masyarakat sudah nyatakan sikap kepada aparat bahwa, jika terulang kami pun akan bertindak untuk membela diri.
Masih simpan dendam, tidak lama kemudian terjadi lagi Polisi menembaki kaki Leo Almung, karena itu masyarakat membakar Polres Pegunungan Bintang, Jelas Noldi.
Menurut Noldi Hilka, ulah maslah dari konsumsi minuman beralkohol di Pegunungan Bintang adalah, karena salahnya KP3 Bandara Udara Sentani dan KP3 Bandara Udara Oksibil. Karena itu, saya minta Aparat Kepolisian lebih khusus KP3 Sentani dan Oksibil betanggung jawab atas peristiwa ini, karena siapa suruh loloskan minuman di daerah sana, kata Noldi.
Sambungnya, saya minta semua tempat penjualan Togel dan Minuman yang bralkohol di wilayah Pegunungan Bintang ditutup Segera, dan Polda pun bertindak keras. Karena pembiaran ini mengakibatkan masyarakat korban. Tegas Noldi.

Sumber : www.knpbnews.com

Comments are closed.

%d bloggers like this: