MSG DAN MASA DEPAN NILAI-NILAI BUDAYA MELANESIA

Melanesian culture, pearl from South Pasific Island(Jubi/ist)

Jayapura,19/6 (Jubi)Pemerintah Indonesia baru saja mengundang negara-negara Persaudaraan Ujung Tombak Melanesia untuk berkunjung ke Jakarta dan Papua guna melihat serta membandingkan kenyataan yang oleh pemerintah Jakarta disebut orang Papua hanya butuh kesejahteraan.

Walau demikian faktanya lahirnya UU Otsus di Provinsi Irian Jaya  karena masalah politik ada permintaan merdeka dari  orang Papua. Selain itu tim 100 yang bertemu Presiden BJ Habibie meminta agar orang Papua mau merdeka tetapi Habibie berpesan,”Pulang dan renungkan.”

Kini Menkopolkam dan jajarannya mulai menggarap sebuah kerja sama atau apapun namanya dengan mengundang para petinggi dari negara-negara Persaudaraan UjungTombak Melanesia untuk berkunjung ke Jakarta. Kunjungan ini penting agar mereka bisa berdialog langsung dan melihat kenyataan hari bahwa beginilah kondisi masyarakat di Papua selama menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Pada 2004 lalu, wartawan tabloidjubi.com berkunjung selama dua minggu di Papua New Guinea(PNG) dalam rangka melihat kemajuan ecoforestry program di sana. Masyarakat di East Britain Province tepatnya di Kota Hopkins sangat tahu persis di mana letak West Papua. Bahkan masyarakat di Kamiali Village juga sangat terharu ketika berbicara dengan rombongan dari West Papua.

Masyarakat di Pasifik Selatan termasuk di Papua New Guinea selalu menyebut warga dari Provinsi Papua dan Papua Barat sebagai orang-orang dari West Papua. Salah satu pertanyaan yang selalu dilontarkan mereka adalah siapa yang membuat batas itu. Maksudnya mereka bertanya siapa yang membuat batas antara West Papua and East Papua. Padahal dalam budaya Melanesia masyarakat antar klen dalam setiap suku sudah mengetahui batas alami sejak turun temurun.

Kenyataan hari ini Tanah Papua sudah terbagi menjadi dua wilayah yang merdeka masing-masing di Papua New Guinea dan satunya lagi merdeka dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kini berstatus Otonomi Khusus meliputi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Salah satu yang bisa menjadi target bagi kerja sama sesama warga Melanesia adalah bagaimana menjaga nilai-nilai budaya dan sosial sesama masyarakat dalam kebudayaan Melanesia. Kepulauan Fiji misalnya dalam menarik wisata di sana selalu menampilkan upacara berjalan di atas batu panas atau Fire Walking Ceremony. Upacara ini ada kesamaannya dengan masyarakat Melanesia Suku Byak di Kabupaten Biak Numfor. Masyarakat Biak menyebutnya simbran apen, begitupula dalam bakar batu atau dalam bahasa Biak disebut Barapen.

 

Ciri terpenting masyarakat Melanesia di Fiji dalam struktur sosial anak negeri adalah penghormatan yang tinggi terhadap kepala suku, yang disebut Tui, atau kepala suku tertinggi yang disebut Ratu. Kepala suku dipandang sebagai titisan nenek moyang yang memiliki mana(spirit) dan kekuatan mistik,sekalipun ia sudah meninggal. Sistem kepemimpinan ini hampir sama dengan gaya kepemimpinan Odoafi di Jayapura. Atau pakar antropologi menyebutnya sistem kepemimpinan Big Man.

Bukan hanya itu dalam sistem ekonomi lokal atau yang dikenal dalam pakar ekonomi menyebutnya barter ekonomi. Sistem ekonomi lokal ini ada kesamaannya dengan masyarakat di Papua New Guinea dan masyarakat Pegunungan Tengah khususnya transaksi kulit bia. Masyarkat suku Mee menyebutnya Mege atau mere, begitu pula masyarakat Suku Muyu yang berdekatan langsung dengan perbatasan PNG juga memiliki tanah adat sampai melewati tapal batas. Bahkan perbatasan di Wutung sampai ke Kali Tami merupakan hak adat masyarakat di Provinsi Sandaun, PNG.

Antropolog kenamaan dari Negeri Belanda yang juga pernah menjadi Gubernur Nederland Nieuw Guinea, Prof Dr Jan Van Baal pernah mengemukan sebuah konsep tentang akulturasi yang keliru (erring acculturation) yaitu ketidak mampuan untuk mencapai sasaran yang diinginkan selama terjadinya  kontak kebudayaan. Akulturasi yang keliru terjadi apabila proses kebudayaan kehilangan arah dan berkembang ke jurusan yang merugikan, menjauhi sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.

Meminjam konsep Jan Van Baal ini untuk bisa mengingatkan masayrakat dalam budaya Melanesia untuk melihat perubahan dan program pembangunan yang terjadi wilayahnya masing-masing dalam proses modernisasi, yaitu modernisasi yang keliru (erring modernization).

Bahaya yang paling besar dari benturan modernisasi itu adalah apabila terjadinya proses”menyusutnya kebudayaan”(cultural lost) dalam masyarakat tersebut. Proses ini bakal mengakibatkan banyak anggota masyarakatnya kehilangan makna dan pegangan hidup mereka, terutama di kalangan generasi mudanya.  Ini berarti  proses modernisasi tidak saja dapat menimbulkan pemiskinan secara ekonomi, tetapi juga ( dan ini yang lebih parah) proses pemiskinan secara kultural di dalam masyarakat tersebut.

Sebuah tantangan bagi masyarakat Melanesia untuk tetap eksis dalam menjaga nilai-nilai kebudayaan asli di tengah tekanan ekonomi dan politik karena potensi sumber daya alam(SDA). Mampukah generasi muda Melanesia bisa menjaga nilai-nilai kebudayaannya sendiri. Ataukah akan terkikis habis dan tinggal kenangan, semuanya sangat tergantung dari keputusan para pemimpin termasuk generasi muda Melanesia itu sendiri yang peduli (Jubi/Dominggus A Mampioper)

Comments are closed.

%d bloggers like this: