Membaca Kepentingan China dalam Forum MSG

Membaca Kepentingan China dalam Forum MSG

 

 

gambar : zonadamai@wordpress.com

Artikel Arkilaus Baho di Kompasiana, Rabu (29/5/2013) berjudul “Zona Dagang Pasifik Peluang Bagi Papua Merdeka?” menarik untuk diulas. Saya tertarik pada ulasan tajamnya tentang dukungan Cina terhadap MSG (Melanesian Spearhead Group). Sebuah forum yang menghimpun bangsa-bangsa Melanesia dalam satu kesatuan ekonomi yang terintegrasi. http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/05/29/zona-dagang-pasifik-peluang-bagi-papua-merdeka-564277.html

MSG saat ini menjadi trend topic di banyak media, khususnya di Papua Nugini, Vanuatu, Fiji, New Zeland, maupun di media-media lokal Papua. Ini mengingat dalam pertengahan Juni nanti MSG akan menggelar konferensi di Noumea, Kaledonia Baru.

Organisasi ini dibentuk tahun 1986, dan hingga kini beranggotakan lima negara yang masyarakatnya didominasi etnis Melanesia, yaitu Papua Nugini, Vanuatu, Fiji, Solomon, dan Kaledonia Baru yang diwakili Liberation Front National Kanak Socialist (FLNKS). Sementara Indonesia, walaupun memiliki jumlah masyarakat etnis Melanesia cukup signifikan (NTT, Maluku, dan Papua), namun posisinya dalam MSG masih berstatus observer. http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/05/28/bintang-kejora-berkibar-di-kantor-msg-adalah-berita-bohong–563665.html

Salah satu agenda Konferensi MSG Juni mendatang adalah kembali membahas posisi Indonesia dalam MSG, mengingat para aktivis Papua merdeka telah mendaftarkan organisasi mereka, yakni WPNCL (West Papua National Coalition for Liberation) menjadi anggota MSG. Jika permohonan WPNCL diterima, kemungkinan besar Indonesia akan dikeluarkan dari MSG. Ini pernah terjadi pada Kaledonia Baru setelah FLNKS diterima menjadi anggota MSG.

Ketua Delegasi RI menyampaikan pandangan RI terhadap KTT Khusus MSG 2012 (Foto: Kompasiana/Komunitas Suva))

Dugaan saya, contoh kasus FLNKS inilah yang menginspirasi para aktivis Papua merdeka mencari upaya baru bagi ambisi mereka melepaskan Papua dari NKRI. Maka kesimpulan Arkilaus Baho dalam artikelnya itu sangat benar. Aktivis Papua merdeka ingin memanfaatkan forum konsolidasi masyarakat serumpun ini sebagai peluang baru menggapai Papua merdeka, setelah peluang mereka melalui lembaga PBB mulai tertutup.

 

Kerjasama Cina dengan MSG

Sebagaimana analisis Arkilaus, kehadiran MSG setidaknya di Pasific Selatan itu setidaknya telah membuat konsentrasi APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation atau Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik) yang cenderung dikendalikan Amerika Serikat menjadi terpecah. Dan, uniknya, mereka mendapat dukungan kuat dari China, salah satu rival terkuat AS saat ini.

Apa saja yang telah dilakukan China di negara-negara anggota MSG? Arkilaus mengutip berita yang dirilis pacific island Report, bahwa Fiji yang selama ini join dagang dengan Selandia Baru dan Australia, akan beralih dengan China. Sedang dirancang perdagangan dua arah dengan nilai sekitar $ US2 miliar. Untuk kepentingan itu, Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama telah melakukan kunjungan resmi ke China. Kunjungan itu atas undangan pemimpin China, Cina Xi Jinping.

Dengan Vanuatu, China mengembangkan kerjasama investasi di bidang perikanan. Sementara dengan PNG, Pemerintah Cina ingin  membangun  dan mengup-grade trans darat Wutung-Wewak sepanjang  300 Km, dan jalan  lintas  Utara  sampai Selatan yaitu dari Merauke (Papua) menuju Daru (Ibukota Western Province) di  PNG dengan imbalan sejumlah lokasi emas  dan  gas bumi di PNG maupun Papua. http://zonadamai.wordpress.com/2013/05/29/cina-ingin-bangun-trans-wutung-wewak-300-km/

Temuan Cadangan Energi dan Mineral di Perbatasan RI-PNG

Peta dagang dan politik China di kawasan Melanesia yang kian kuat ini patut membuat Amerika dan Australia khawatir. Amerika dengan PT. Freeport yang jauh lebih dulu menanamkan investasinya di pertambangan emas dan tembaga di Papua tentu sedikit terusik dengan geliat China di wilayah perbatasan RI-PNG itu. Apalagi kompensasi yang diharapkan Cina adalah lokasi tambang emas dan gas bumi.

China juga akan berhadapan dengan PT. Aneka Tambang (ANTAM) yang salah seorang komisarisnya adalah salah seorang Staf Khusus Presiden RI, Velix Wanggai. PT ANTAM saat ini sedang mengekslporasi emas dan thorium di pegunungan Tengah Papua, tepatnya di kawasan Kabupaten Yahukimo. Wilayah ini diketahui memiliki cadangan emas dan batu bara bahkan Thorium yang cukup besar.

Arkilaus Baho dalam artikelnya itu mengutip pernyataan Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Thamrin Sihite, bahwa di perbatasan antara Papua dan Papua Nugini menyimpan potensi energi dan mineral yang sangat besar dan belum tergarap. “Kalau cadangan PT Freeport Indonesia mencapai 2,5 miliar ton, maka di perbatasan bisa lebih dari itu,” kata dia.

Penemuan cadangan energi dan mineral tersebut membuka tabir sejarah baru dalam hubungan dagang dan peta politik internasional di Papua dan sekitarnya. Ini makin diakselerasi oleh pendirian MSG (Melanesian Spearhead Group). Dengan demikian, kerangka politik kawasan kian mengarah pada hubungan dagang di kawasan ini. Tulis Arkilaus.

China-MSG-Papua Merdeka

Tidaklah terlalu sulit membaca geliat China di kawasan Pasifik Selatan. Pintu masuk bagi China untuk mendapatkan kompensasi tambang emas, tembaga, batubara di wilayah perbatasan di perbatasan PNG-RI adalah melalui MSG. Kendalanya adalah bagaimana memasuki Papua karena sudah ada Freeport di sana dan kini ada pendatang baru, yaitu PT. ANTAM.

Entah sudah ada campur tangan China atau belum, namun langkah para aktivis Papua merdeka mendaftarkan West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) menjadi anggota MSG dapat menjadi peluang bagi China untuk memasuki Papua. Karena bagaimanapun juga, WPNCL sudah mendapatkan dukungan dari negara-negara anggota MSG serta dukungan dari banyak tokoh Papau merdeka di Papua yang selama ini terpecah-pecah dalam berbagai kelompok.

Dengan dukungan itu, apalagi jika sudah mendapatkan pengakuan sebagai anggota penuh MSG, WPNCL akan memiliki kedudukan politik yang kuat di Papua. Kendati misi WPNCL adalah Papua merdeka, namun dengan status barunya itu, WPNCL bisa memiliki bargaining position untuk membolehkan atau menolak investor asing yang alan masuk ke Tanah Papua.

Yang patut dikhawatirkan, jika China akhirnya mendapatkan hak mengeksploitasi sumber daya alam (tambang emas dan tembaga) di perbatasan PNG-RI tersebut, maka demi kelangsungan usahanya, China harus mendukung misi WPNCL untuk melepaskan Papua dari NKRI. Lagi pula modus ini sudah jamak terjadi, dimana kepentingan ekonomi sering ‘berselingkuh’ dengan kepentingan politik. []

Comments are closed.

%d bloggers like this: