Pekerja Freeport Asal Papua Tewas

Timika — Seorang pekerja asal suku Amungme, Papua, Jimmy Beanal, ditemukan meninggal di areal mile 74, Senin, 17 Juni 2013. Belum diketahui penyebab kematian Jimmy, pekerja di MTC Departement itu.

Seorang kerabat, Marthen Beanal, membenarkan kematian Jemmy. “Tapi kami belum tahu kenapa dia (Jimmy) meninggal,” kata Marthen, ketika dihubungi melalui telepon, Selasa, 18 Juni 2013 pagi.

Sementara Kepala Kepolisian Sektor Tembagapura, Ajun Komisaris Polisi Sudirman, menduga Jemmy meninggal karena sakit. “Iya, benar ada yang meninggal karyawan. Atas nama Jimmy Beanal dan diduga karena sakit,” kata Sudirman.

Terkait penyerangan puluhan penduduk atas sejumlah fasilitas PT Freeport Indonesia sejak Minggu, 16 Juni 2013 hingga Senin, 17 Juni 2013, Sudirman mengatakan situasi berangsur mulai kondusif. “Situasi sudah clear semalam (Senin) telah dilakukan penertiban dan sekitar jam 5 pagi sudah clear tdk ada lagi non-karyawan (penduduk) berada di areal mile 74. Situasi berangsur kondusif,” kata Sudirman.

Melalui, common centre, manajemen PT Freeport Indonesia juga menegaskan kepada seluruh pekerja bahwa situasi sudah mulai kondusif. Dalam infomasi ke seluruh pekerja di Tembagapura, manajemen menyampaikan bahwa pada Minggu, 16 Juni 2013, Security Risk Management menerima laporan ada upaya penyerangan dan penjarahan di fasilitas perusahaan Mile Post 74 oleh sekelompok penduduk. Security Risk Management dan aparat keamanan sudah berhasil menguasai situasi.

Dalam informasi kepada seluruh pekerja ini juga disebutkan bahwa pada Senin upaya pengrusakan dan penjarahan kembali dilakukan, tetapi pasukan berhasil mengatasi situasi setelah ada penambahan jumlah pasukan yang akan memperkuat grup regular Security Risk Management. Perusahaan berjanji akan meningkatkan pengamanan dan penjagaan di seluruh areal kerja dan pemukiman pekerja.

Selain itu, seluruh pekerja diminta bekerja seperti biasa. Penduduk Kota Tembagapura yang terdiri dari pekerja Indonesia dan pekerja asing diminta tetap tenang dan melakukan kegiatan seperti biasa.

Menurut seorang pekerja di tembagapura, Denny (nama samaran), penyerangan puluhan penduduk pada Minggu, 16 Juni 2013 sekitar pukul 19.30 waktu Papua itu mengakibatkan 13 unit mobil perusahaan mengalami kerusakan berat. Selain itu, penyerang juga merusak dan menyerang anggota Securicore. Sejumlah anggota Securicore menderita luka berat dan harus dilarikan ke Rumah Sakit ISOS Tembagapura. “Kabarnya ada seorang anggota Securicore yang meninggal, tetapi saya tidak bisa memastikan karena situasi saat itu sangat mencekam,” kata Denny.

Selain merusak mobil dan menyerang anggota Satuam Keamanan Khusus (Securicore)
Puluhan penduduk, menurut Denny, juga membobol tangki concentrat (bahan tambang) tangki 300, area sag mile C 4, area sag mile 1 C 3 , area boll mil 3 C1 . “Jumlahnya sekitar 70 orang. Aparat keamanan sempat menangkap 50 orang dan dikembalikan ke kampungnya. Tapi situasi saat itu kembali memanas,” kata Denny.

Sekelompok warga lainnya, menurut Andry (nama samaran), pekerja tambang bawah tanah, juga melakukan blokade jalan menuju tambang bawah tanah. Akibatnya, seluruh pekerja yang harus melakukan maintenance tambang bawah tanah usai kecelakaan Big Gossan, tidak dapat melakukan pekerjaannya.

Sejak kecelakaan tambang Big Gossan, tidak ada aktivitas produksi di tambang ini. Tim investigasi masih melakukan pemeriksaan untuk mengungkap penyebab musibah Big Gossan. Selama investigasi pekerja diwajibkan melakukan pemeliharaan sejumlah fasilitas tambang bawah tanah agar siap ditambang ketika seluruh proses investigasi selesai dilakukan. “Kami tidak dapat melakukan maintenance sejak kasus penyerangan ini. Mereka (penduduk) memblokade jalan masuk ke aeral tambang bawah tanah,” kata Andry.

Comments are closed.

%d bloggers like this: