Sebby Sambom Minta Perlindungan Internasional

 

Jayapura (23/10)—Aktivis HAM Pro Independen Papua Barat, Sebby Sambom merasa terancam oleh dua hal. Menurut Sebby, kedua hal itu, yakni adanya rekamanan video yang isinya Matias Wenda selaku panglima Tentara Revolusi West Papua (TRWP) memerintahkan anak buahnya membunuh dirinya. Juga adanya tindakan pasukan non organik seperti Kopasus, Kostrad, dan Densus 88, yang tak prosedural terhadap para aktivis HAM dan Papua Merdeka.

Sehingga dengan dua hal itu, kata Sebby, kini dirinya sudah lima bulan melindungi diri di dalam hutan belantara yang ada di dalam kawasan Cagar Alam Cycloop. Namun pada Senin (22/10) lalu, tabloidjubi.com berkesempatan menemui Sebby di tempat persembunyiannya itu.  Dan inilah hasil wawancara tabloidjubi.com dengan Sebby yang sempat direkam:

Bagaimana kesehatan Anda?
Kesehatan saya kurang fit. Satu minggu lalu kena malaria akibat nyamuk karena tinggal di hutan sudah lima bulan ini.

Sejak kapan Anda tinggal di hutan dan kenapa lari ke hutan?
Sejak Mako Tabuni ditembak mati. Sejak itu para aktivis menjadi target. Densus 88 menjadikan aktivis menjadi target operasi seperti teroris.

Apakah Anda yakin jadi target?
Saya ini kan pernah ditangkap dan ditahan, jadi trauma. Saya kuatir tindakan aparat non organik seperti Kopasus, Kostrad dan Densus 88 bertindak di luar prosedur.

Apakah ada hal yang lebih dari itu yang membuat Anda lari ke hutan?
Kemarin ada yang memberitahu saya, ada orang Papua yang kerja tangkap kami. Ada yang beritahu, pakai orang Papua untuk tangkap dan bunuh kami. Ada rekaman teror dari Matias Wenda, Danny Wenda dan Sem Karoba. Video ini bersisi rekaman bunuh Sebby. Saya akan tunjukkan videonya.

Apa alasan Matias Wenda perintahkan bunuh Anda?
Karena tujuannya tidak jelas dan ini kelompok yang mengaku diri kaki tangan Benny Wenda di Inggris. Maka, saya minta Benny Wenda dan Matias Wenda bertanggungjawab atas rekaman ini.

Apakah Anda yakin video ini rekaman Matias Wenda?
Video ini belum jelas. Saya bisa curiga video ini dari kelompok rekayasa, yang belum jelas tujuannya.

Matias Wenda perintahkan siapa eksekusi Anda?
Ada banyak nama aktivis dari TRWP dan Kominte Nasional Papua Barat (KNPB). Saya tahu nama-nama mereka. Mereka yang dipakai itu masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), tetapi masih berkeliaran di Kota Jayapura.

Apakah mereka ini diberi imbalan?
Mereka ini sebagian dipersenjatai. Mereka ada yang bawa pistol. Sumber pistol, saya tahu.

Siapa sumber pistol kepada aktivis untuk tembak Anda? 
Saya tahu. Anda belum bisa tahu. Ada waktu untuk kita bicara.

Selain Anda, siapa lagi yang menjadi target?
Semua aktivis pejuang penentuan  nasib sendiri di Papua Barat.

Apa buktinya?
Ada bukti kalau oknum-oknum tertentu di KNPB dan TRWP kerja sama dengan pihak ketiga. Mereka ini sudah mendapatkan uang dari UPB4. Penangkapan aktivis dan peledakan bom di Wamena, misalnya. Peledakan bom itu dari aktivis yang dipakai.

Berapa aktivis yang lari ke hutan? Dan Apakah ada anak-anak dan wanita?
Ada 60 aktivis kini berada di hutan. Anak dan isteri saya ini juga ikut. Mereka sudah lima bulan bersama saya di sini. Mereka juga kuatir menjadi target kalau saya tidak ada.

Apakah ada aktivis yang sakit?
Saya sendiri sakit. Tapi ada yang sakit limpah. Perut besar dan muka sudah pucat.

Selama Anda di hutan, Anda makan apa?
Lari ke hutan ini resiko. Apa yang ada di hutan kita makan.

Apakah Anda butuh bantuan internasional?
Pertama, kami harap Palang Merah Internasional datang memberikan bantuan kepada aktivis dan jurnalis internasional datang wawancara kami. Kedua, kami minta perhatian dunia internasional karena Densus 88 lakukan operasi di masyarakat dan secretariat aktivis tanpa prosedur.(Jubi/Mawel)

Comments are closed.

%d bloggers like this: