Pelaku Penikaman Mahasiswa Papua di Bandung Diciduk

Pelaku Penikaman Mahasiswa Papua di Bandung Diciduk

Sekda:  Itu Kemungkinan Karena Mabuk

 

drh. Constan Karmadrh. Constan Karma

Bandung – Polisi menangkap seorang pria yang diduga pelaku penusukan hingga menewaskan seorang pemuda asal Papua di sebuah asrama mahasiswa di Jalan Cilaki Kota Bandung. “Seorang pelaku sudah ditangkap dan dimintai keterangan di Satreskrim Polrestabes Bandung, tersangka ditangkap tidak jauh dari lokasi kejadian,” kata Kabagops Polrestabes Bandung AKBP Dano Kastoni di lokasi kejadian saat melakukan pengamanan, Bandung, Jumat.
Kejadian perkelahian yang menewaskan korban Yusuf  Badi itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB di depan asrama mahasiwa, korban yang terka tusukan pada bagian dada sempat melakukan pengejaran terhadap pelaku sejauh 50 meter hingga ke Jalan Taman Cibeunying Selatan dan akhirnya ambruk bersimbah darah.
Selain itu seorang teman korban, mengalami luka-luka dan saat ini mendapat perawatan di RS Boromoeus Bandung.
Kabagops menyebutkan, saat ini polisi masih menyelidiki penyebab perkelahian yang terjadi diantara sesama komunitas itu. Beberapa saksi mata juga sudah dimintai keterangan oleh polisi. “Pelaku sempat dibawa ke Polresta Bandung Wetan selanjutnya dibawa ke Reskrim Polrestabes Bandung,” kata Dani.
Suasana di Jalan Cilaki depan asrama mahasiswa itu sempat mencekam, ketika beberapa teman korban histeris dan mencoba memblokir jalan itu dan menghadang beberapa kendaraan yang melintas yang akhirnya berhasil ditenangkan oleh rekan-rekannya.
Polrestabes Bandung mengerahkan dua truk petugas Dalmas, Rekskrim dan Tim Olah TKP ke lokasi kejadian. Jenazah korban sempat dibawa ke asrama itu dan rekan korban sempat menolak untuk divisum. Jalan Cilaki ditutup untuk pengendara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Disesalkan, Penikaman Antara Mahasiswa Papua di Bandung
Sementara itu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua hingga saat ini mengaku belum mendapatkan laporan soal kasus penikaman antar mahasiswa asal Papua di Bandung tersebut. Saat ditanya perihal kasus ini, Sekda Provinsi Papua drh. Constant Karma terlihat agak terkejut, sebab Pemprov Papua belum sama sekali mendapatkan laporan kasus penikaman tersebut. “Peristiwa itu kemungkinan diduga karena dalam kondisi dipengaruhi minuman keras (Miras, red) atau mabuk. Saya ini juga pernah kuliah di Kota Jogjakarta dan tinggal di Asrama Kamasan – Jogjakarta. Kalau saya liat itu palingan berantam karena mabuk atau dipengaruhi Miras,” ujarnya.
Ketika wartawan meminta tanggapannya perihal kasus penikaman tersebut, Sekda Constant Karma menyesal atas peristiwa yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan II, di Jalan Cilaki 59 – Kota Bandung. Para mahasiswa ini datang ke Bandung bukanlah untuk melakukan pesta minuman keras (Miras, red) atau berkelahi, melainkan untuk bersekolah. “Artinya sebagai calon intelektual mereka tidak boleh seperti itu. Apapun masalahnya, walaupun emosi. Karena mahasiswa itu kan kelompok masyarakat intelektual. Jadi kalau berantem sampai melakukan tindakan kriminal seperti penganiayaan atau penikaman itu, tidak boleh dan itu kita sangat sesali sekali,” katanya.
Lebih jauh lagi Karma mengatakan masalah miras atau mabuk adalah masalah semua pihak yang ada di Papua. Mabuk merupakan masalah dilematis, seraya memberikan contoh di Kabupaten Manokwari – Papua Barat yang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda, red) larangan untuk menjual dan mengonsumsi Miras disembarang tempat. Akan tetapi sampai saat ini berita – berita yang kuat beredar soal keberhasilannya sangat kurang. “Lebih banyak cerita bahwa mereka Miras di daerah lain baru pulang ke Manokwari,” tuturnya.
Selain itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura dalam hal ini Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tommy Mano, MM. juga ingin membuat suatu Peraturan tentang pelarangan peredaran alcohol atau Miras secara bebas. Akan tetapi juga tidak kuat sekali. Menurutnya saat larangan Miras masuk di Manokwari dan Kota Jayapura, ada rekan – rekan Sekda di Jakarta bertanya kepada dirinya soal masalah Miras ini. Akan tetapi dirinya mengaku serba sulit untuk menjawabnya. “Saya pikir persoalannya ada pada yang meminumnya bukan pada alkoholnya,” katanya lagi.
Dirinya juga mencoba mengamati situasi yang lain. Terkadang ada yang kurang percaya diri (Pedde, red). Harus Miras atau dalam pengaruh alkohol terlebih dahulu baru dia bisa bicara di depan orang banyak. “Harus kita bertanya, mengapa Miras yang balik meminum (mempengaruhi, red) kita. Itu yang tidak boleh,” tegasnya.
Untuk itu,  Pemprov Papua akan berbicara dengan Kapolda  dan Wakapolda Papua, guna melakukan penertiban Miras yang secara bebas beredar di tengah – tengah masyarakat dan bagaimana pencegahannya terhadap orang yang dalam kondisi mabuk akibat usai mengonsumsi Miras tersebut.
Sebagai mantan mahasiswa melakukan studi di luar Papua dan pernah tinggal di asrama mahasiswa Papua Kamasan – Jogjakarta, serta menjadi ketua organisasinya, Sekda mengakui bahwa masalah di dalam asrama sangat banyak. Termasuk  soal mabuk. “Urus mereka sangat repot sekali. Jadi waktu saya ketua organisasi saat mahasiswa, memang saya urus teman – teman yang mabuk banyak dan itu tidak mudah. Bahkan sampai polisi datang ke asrama kami berulang – ulang. Kami juga pernah ribut dengan salah satu anggota TNI AD di Jogjakarta. Mereka kepung asrama kami. Ini hanya karena salah satu teman kami dia mabuk, lalu entah di jalan mungkin ribut dan berkelahi. Tau-taunya pada malam hari, asrama kami sudah dikepung oleh anggota TNI AD,” ceritanya. (ant/mir/don/l03)

Comments are closed.

%d bloggers like this: