Ada 3.315 Penderita HIV-AIDS di Papua Barat

Ilustrasi HIV-AIDS
Manokwari (23/9) — Penderita penyakit HIV-AIDS di Papua Barat paling tinggi. Sedikitnya, 3.315 warga disejumlah perkampungan yang ada di Provinsi ini mengidap penyakit yang belum ditemukan obatnya itu.

Pendeta Lois Atiloporu mengatakan, total penderita penyakit HIV-AIDS di Provinsi Papua Barat berjumlah 3.15 orang. Dari jumlah itu, penderita HIV berjumlah 1.976 orang, AIDS sebanyak 1.348 orang, meninggal berjumlah 755 orang. Jumlah ini diperoleh dari pendataan yang dilakukan oleh Gereja Protestan Indonesia (GPI) di wilayah Papua Barat per Juni 2012. “Jumlah penderita HIV-AIDS yang saya sebutkan itu data baru yang baru kami catat Juni lalu,” kata Lois kepada tabloidjubi.com di Amban, Manokwari, Minggu (23/9).

Menurut Lois, mereka yang menderita penyakit yang belum ditemukan obatnya itu adalah ibu rumah tangga (IRT). Kebanyakan IRT yang menderita HIV-AIDS itu berdomisili di kampung-kampung. “Kebanyakan mereka yang menderita penyakit yang belum ada obatnya ini tinggal di kampung-kampung,” ujar Lois. Data yang diperoleh diserahkan ke Pemerintah khususnya ke instansi terkait yakni Dinas Kesehatan dan KPA Papua Barat yang menangani masalah ini.

Lois menambahkan, dalam pelayanan, GPI menyepakati dua program besar untuk dijalankan. Pertama, turun lapangan dan melayani mereka yang terkena penyakit HIV-AIDS. Kedua, menjaga keutuhan ciptaan yang ada terutama Sumber Daya Alam (SDA). “Kalau bukan kami siapa lagi. Kita tidak hanya khotbah diatas mimbar saja tapi harus ada tindakan nyata yang dilakukan,” tuturnya.

Pendeta Elvina Iha mengatakan, kebayakan penderita HIV-AIDS di Papua Barat didominasi oleh ibu rumah tangga di perkampungan karena sampai saat ini kepala-kepala suku yang ada berkuasa atas segala yang disatu kampung yang dia pimpin. “Kalau kepala suku kawin lebih dari satu kemudian berkuasa atas perempuan lain jelas mempercepat penyebaran HIV dan AIDS,” kata Elvina.

Dia mengungkapkan, pelayanan terhadap mereka yang menderita penyakit itu menjadi tanggung jawab semua pihak terutama gereja. Peran gereja sangat penting karena di kampung yang terisolir pun ada gereja. “Gereja punya peran sangat besar. Karena hampir disemua perkampungan, ada gereja,” ujar Elvina.

Ia menambahkan, upaya penanganan HIV-AIDS di Manokwari, Papua Barat disampaikan melalui siaran RRI. Dalam seminggu, semua denominasi gereja berdialog soal penyakit HIV-AIDS. “Dalam dialog-dialog yang kami lakukan di RRI ini melibatkan semua tokoh gereja dari semua denominasi gereja,” tuturnya. (Jubi/Musa)

Comments are closed.

%d bloggers like this: