Aku dan Kamu adalah Satu, tapi Berbeda bangsa “Muncul perselian antara aku dan kamu”

Ilustrasi
Perbedaan itu menandakan bahwa saya dan kamu adalah satu keluarga yang diciptakan dari Tuhan. Namun, kita tidak diberia kebebasan untuk menyakini bahwa kamu dan aku adalah sebangsa. Kita memang satu tapi beda sejarah. Saya meyakini  bahwa kamu adalah keluargaku. Namun,ku pikir  bahwa kamu adalah  alat umpan untuk aku sehingga aku dan kamu menjadi satu.
Kamu selalu mengajak aku untuk main bersama dengan teman-temanmu. Dan kamu sering mengajak aku ke rumahmu bahkan kamu tidak pernah menceritakan tentang kehidupan kamu. Padahal dibalik semua itu,  kamu mengumpan saya untuk membunuh saya. memang kamu seperti itu kok?
Ketika aku melangkah untuk maju dan berani untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya, malah kamu todong saya dengan pisau kecilmu. Ketika saya mau berbicara, kamu todong pisaumu ke leher aku. Aku pikr kamu teman yang baik dan ku pikir kami adalah satu keluarga. Malah kamu membunuh saya dengan pelan-palan dari belakang. Kamu memang jahat dan penghianat.
Aku sudah sadari bahwa kamu adalah teman yang pecundang dan penghianat. Sekarang aku tidak meyakini bahwa kamu dan aku adalah satu. Kamu mengajariku bahwa hidup di bangsa ini adalah hidup untuk damai. Tapi kenyataannya. Kamu menipu saya.
Sekarang aku ingin bebas dan tidak mau tinggal dengan kamu. Dan mulai dari sekarang, aku dan kamu bermusuhan. Aku tidak mau lihat lagi mukamu dihadapanku. Aku benci sama kamu, kamu jangan pernah menginjak di halaman rumahku lagi. Ku pikir kamu adalah teman yang baik. Namun, kamu telah menghabiskan saudara-saudaraku dengan memakai pisau kecilmu itu. Dan untuk hari ini, kamu jauh dari hadapanku dan mulai hari ini aku dan kamu adalah musuhan.
Karena adanya kebencian itu, temanku itu mulai merasakan hal yang berbeda di dalam hidupnya. Temanku mulai membabat habis saudara-saudaraku lagi. Aku ingin membalas dan ingin membunuh mereka kembali. Namun,  teman-temannya banyak dan langsung menodong pisau kecil mereka ke leherku. Aku tidak sanggup untuk melawan temanku dan teman-tamannya.

Lalu ku berpikir, salah satu jalan yang terbaik ialah harus berdialog. Aku ingin berdamai dengan temanku. Temanku, kamu adalah sahabat ku dan kita adalah satu. Maka, untuk menyeselesaikan masalah ini, marilah kita duduk bersama-sama dan harus berdialog untuk menyelesaikan masalah ini. Lalu apa kata temanku. Memang kita sama tapi kita berbeda bangsa kamu hitam dan aku putih. Aku ingin menyelesaikan masalah. Tapi untuk hari ini, nanti duluh. Aku pikir-pikir duluh. Nanti baru aku bebaska kamu! Tapi sekarang tidak bisa. Kamu adalah bagian dari diriku. Au tidak akan bebaskan kalian. ( Alexander Gobai/MS)

Comments are closed.

%d bloggers like this: